Saat itu sekali lagi di depan kelas, di depan anak anak ku praktekkan lagi teori orang yang entah darimana aku dulu pernah baca. Teori itu berkata kurang lebih orang tidak butuh dengan cerita tentang kita. Tapi mereka masih butuh cerita tentang kita mengenai mereka. Tapi bukankah sepertinya kita sebenarnya sudah tahu mengenai hal seperti itu. Meskipun demikian memfilosofikan hidup sekali kali juga perlu.
Angela adalah seorang gadis tokoh utama di cerita ini. Ia anak gunung yang hijrah ke kota. Tak tampak ia seperti kesan gunung, ia lebih kota dari gadis kota. Tertular gaya hidup metropolis tetangga tetangganya yang pulang dari merantau ke Hongkong. Tapi yang penting adalah ia kesini tidak untuk pamer diri sebagai orang gunung yang metropolis tapi untuk belajar.
Ada seorang teman lamaku yang nitip "salam tempel". Salam tempel istimewa tanda doa Restu pernikahan. Kebetulan ia repot tidak bisa hadir di "walimatul arsy" pesta pernikahan teman sekantorku. Kebetulan teman sekantorku tadi adalah "teman" dari teman lamaku tadi.
Rumah teman lamaku ini tidaklah dekat. Umpama ia mau menemuikupun rasanya sulit. Ia sedang mengandung anak dari suaminya yang sah. Umpama ia bertekadpun rasanya ia sungkan untuk menemui orang repot sepertiku. kira kira takut mengganggu begitulah.
Tapi itu lah yang terjadi ia memang tidak menemuiku. Ia punya kurir namanya Angela. Gadis yang disebut diatas. Kurir angpao yang terpercaya yang juga punya hubungan kerabat. Tak heran mereka berdua mirip. Selain sedarah juga segaya. Sama sama metropolisnya. Dan juga sama sama berasal dari gunung.
Ada ciri khas dari anak sekarang yang bagiku cukup unik tapi bagiku mengganggu. Yaitu kurang tanggung jawab. Tuntutan bertanggung jawab mungkin terlalu berlebih umpama dilihat dari ukuran tanggung jawab yang dipahami. Anak anak cenderung kurang sadar bahwa amanah ori harus Ia emban sampai selesai. Contoh kasus kecilnya seperti kasus Enggala.
Aku menerima kabar bahwa teman lamaku ini menyuruh Angela untuk memberikan salam tempel atau angpao ataulah apa namanya kepadaku. Sayangnya ia hanya memberikan nama tanpa kelas kepadaku. Akibatnya aku harus kebingungan mencari anak yang namanya Angela itu. Nama itu tidak unik di zaman ini. Ada banyak sekali nama itu tidak hanya di sekolah bahkan di Satu kelas yang sama. Kalau dipikir aku cukup menunggu anak itu datang padaku dan urusan usai tidak perlu tanya tanya atau Sms sana sini atau buka buka file. Tidak datang ya sudah tak jadi kuantar saja toh bukan salahku. Tapi itu tidak dilakukan. Karena itulah yang kuanggap sebagai bentuk tanggung jawab yaitu menyelesaikan urusan sampai selesai.
Keberuntungan rasanya selalu menghampiri orang yang baik. Semoga demikian :-). Saat jam pelajaran itu ia ada di depanku. Aku ragu antara iya dan tidak antara tidak dan iya bahwa anak inilah si kurir angpao yang seharian kucari cari. akhirnya kutanyai saja langsung : "!!La! Ada titipan dari mbak tidak?". " Oh iya pak, he... Lupa pak.. maaf"! Langsung ia serahkan saja sebuah amplop putih bertuliskan
برك الله لكما و برك عليكما
وجمع بينكما في خير.
Iseng saja kuterawang amplop itu setidaknya ada seratus ribuan dan lima puluh ribuan. Saat itu jumlah segitu lumayan besar dibandingkan rata rata orang yang hanya sebesar 30.000 atau 50.000 rupiah saja.
Jumlah ini pastilah bermakna. Sebelum warga kelas ini mengungkapkan keinginantahuan mereka lekas saja aku pura pura bertanya hubungan angela dengan teman lamaku itu. Lantas kuteruskan ceritaku di depan kelas bahwa aku akan mbecek ke teman sekantorku itu dan family angela ini titip dan kebetulan kami kenal.
Warga kelas sebenarnya bertanya tanya heran koq Bapak ini koq punya kenalan seorang wanita ya. Aku hendak bercerita dan cintaku tiba tiba terpotong cerita angela. Ia tidak sabar ingin menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Tapi tak kubiarkan. Cepat cepat kutimpali bahwa ini semua cerita lama dan kebetulan kami saling kenal. Untung angela menangkap maksudku itu.
Biarlah yang menjadi rahasia tetap menjadi rahasia pribadi mereka. Tentang cerita sebenarnya dibalik salam tempel 150.000 itu tetap menjadi rahasia mereka.
Warga kelas ini kurasa tidak ingin tahu dan tidak butuh tentang ini dan biar saja tidak tahu. Informasi lebih lamjut tidak berpengaruh terhadap perkembangan jiwa mereka. Jika Mereka ingin tahu hanya karena aanggapan hal itu juga bisa mengenai mereka juga. Mungkin kelak atau dalam imajinasi mereka.
#cerita sebelum mbecek#